#10 The Future of Work, Revolusi Industri Jilid 4

Di bulan maret 2015, Obama meluncurkan program yang disebut TechHire Initiative. Program ini merupakan inisiatif Gedung Putih mencermati perkembangan teknologi yang merambah semua jenis industri. Perkembangan yang sangat cepat ini  berimbas pada kurangnya tenaga kerja yang mempunyai kemampuan di bidang IT khususnya coding. Di tahun ini saja AS membutuhkan setengah juta tenaga kerja di bidang IT.

TechHire Initiative adalah program Gedung Putih senilai US $100 Juta (Rp 1.35T) untuk mengkoordinasikan upaya pemerintah federal, kota, perusahaan dan sekolah dalam melatih tenaga kerja agar mereka dapat mengisi ratusan ribu lowongan pekerjaan dengan ketrampilan IT. Lewat program itu pemerintah AS memberi bantuan kepada sekolah-sekolah coding seperti Galvanize, Flatiron School dan Hack Reactor. Sekolah-sekolah itu menawarkan program akselerasi keterampilan digital. Program ini terbuka bagi masyarakat umum agar mereka dapat melamar pekerjaan bergaji tinggi, yaitu  50% lebih tinggi dari pekerjaan lain pada level yang sama.

Itulah jenis pekerjaan yang dalam dekade sebelumnya tidak pernah kita kenal. Sebutlah misalnya: software development, network administration, dan cybersecurity.

The internet of Things, Credit foto
The internet of Things, Credit foto

Tren ini juga kelihatan dari jumlah kelulusan di sekolah-sekolah coding. Di tahun 2015, sekolah-sekolah coding itu akan meluluskan sekitar 16.000 siswa. Jumah yang meningkat lebih dari 2X lipat lulusan tahun lalu (6.740 siswa). Jumlah kelulusan sekolah coding di 2015 adalah  1/3  dari  jumlah lulusan ilmu komputer dari universitas Amerika. Konsentrasi terbesar dari sekolah cooding itu, sering disebut Boot Camp, di San Francisco (12 Boot Camp), diikuti oleh New York (9),dan Seattle (8).

Apa yang sebenarnya terjadi?
Kebutuhan yang sangat tinggi akan tenaga kerja di bidang teknologi menandakan satu hal ini: yaitu dekade Internet of Things. Kita sedang memasuki dekade baru yang mengubah seluruh aspek kehidupan kita, karena kehadiran IoT (the internet of things). Kehadiran IoT akan mengubah seluruh aspek kehidupan kita, mulai dari gaya hidup, budaya, cara kita berelasi, termasuk dalam cara kita bekerja. Kita memasuki masa digital-ecosystem. Semua sub-sistem kehidupan di planet ini akan terhubung secara digital. Setiap sudut rumah, toilet, dapur, ruang tidur garasi dan mobil menjadi serba digital.

Demikian juga halnya dengan dunia manufaktur dan semua jenis industri akan dipaksa untuk melakukan perubahan radikal karena perkembangan teknologi dan lebih khusus lagi pemanfaatan artificial intelligence, baik dalam bentuk robot maupun software/aplikasi. Sebuah era industri yang disebut the future of work sudah ada di hadapan mata. Era ini akan membuat sebuah pabrik atau industri akan ketinggalan jaman, kalah dalam persaingan atau mungkin bangkrut jika tidak melakukan inovasi. Ya, inovasi di semua aspek.

Jacon morgan menyebutkan ada lima innovasi yang harus dilakukan sebuah perusahaan yaitu, inovasi karyawan, inovasi pelanggan, inovasi supplier/partner, inovasi competitor, dan inovasi kebijakan publik. Inovasi akan terjadi di semua aspek usaha, tetapi dasar dari semua inovasi itu adalah satu hal: inovasi mindset. Apa yang harus berubah dalam mindset para leader/CEO dan shareholder?

Kata kunci dari semua inovasi teknologi/digital itu adalah, keterbukaan, pertukaran, dan kolaborasi. Ketiga hal itu didasari pada fakta bahwa di luar struktur organisasinya, ada orang yang lebih cerdas, lebih ahli. Mereka yang lebih cerdas itu mungkin ada dalam diri karyawan di bagian lain, di antara pelanggan, vendor, atau mungkin competitor. Sayangnya banyak CEO masih mengira bahwa menjaga rahasia perusahaan adalah hukum suci sebuah usaha. Mindset seperti itu adalah mindset usang di era ini.

Contoh yang langsung dari implementasi perubahan mindset itu dapat dirasa pada produk terbaru IBM yaitu Bluemix. Bluemix adalah sebuat open platform yang merupakan implementasi dari arsitektur open cloud, yang memungkinkan seseorang membuat applikasi, mengubah atau mengganti aplikasi seketika. Kecanggihan bluemix antara lain dari kemampuannya untuk di pakai lintas platform (bahasa pemograman), lintas service aplikasi, dan lintas cloud.

Dengan Bluemix, sekarang dimungkinkan membangun suatu ekosistem dan runtime, untuk beberapa perusahaan, dengan jenis layanan yang berbeda-beda; bersamaan dengan itu bersinergi dengan sebuah universitas riset atau komunitas tertentu bahkan dengan individu. Bluemix juga memungkinkan analisa data dengan tingkat kerumitan yang tinggi untuk menghasilkan sebuah keputusan yang tepat dan cepat.

Open Innovation

Manakah perusahaan yang akan survive dalam era “bluemix”? Mereka adalah perusahaan yang menerapkan open innovation, dengan memanfaatkan kecanggihan bluemix atau sejenisnya.  Open innovation, artinya innovasi yang terbuka bagi semua pemangku kepentingan Inovasi ini dilahirkan dalam sebuah ekosistem yang dibangun antara perusahaan, karyawan, pelanggan, partner, vendor, konsultan, universitas, dan pemerintah. Semakin sebuah ekosistem berjalan baik, semakin kuatlah lembaga-lembaga yang ada di dalamnya.

Sudah tiba masanya di ruang rapat  hadir pelanggan, konsultan, vendor dan karyawan. Mereka duduk bersama mencari solusi atas sebuah masalah.  Sebuah fenomena yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Sebuah kelas, sebuah co-workers space, atau sebuah rapat dalam perusahaan, mungkin seperti ini situasinya. Credit foto.

Perusahaan-perusahaan terkemuka dunia tanpa kecuali melakukan inovasi dan membangun ekosistem mereka. Lihatlah apa yang dilakukan Walmart, GE, Google, Facebook dan lain-lain.

Berbagai universitas, komunitas kreatif ambil bagian dalam perubahan ini. Demikian juga yang dilakukan pemerintah di berbagai belahan dunia.

Lihat misalnya Pemerintah Obama meluncurkan TechHire Initiative. Pemerintah Cina meluncurkan berbagai program dalam tahun 2015-2025 untuk mewujudkan Cina sebagai Negara Inovasi no 1 di Dunia.

Malaysia membangun Genovasi bekerjasama dengan Standford University, sebuah pusat pendidikan di Petaling. Konon Pemerintah Malaysia mewajibkan pegawai negeri dengan level tertentu yang mau naik jabatan untuk megikuti kelas di Genovasi. Programnya mereka sebut design thinking; sebutan lain untuk program pelatihan yang bertujuan mengubah mindset PNS memasuki era IoT.

Jejak-jejak terbangunnya aneka ekosistem itu sudah mulai kelihatan. Sebuah revolusi industri jilid 3 sedang terjadi. Mudah-mudahan Cikarang Techno Park dan segenap pemangku kepentingan ambil bagian dalam revolusi ini, “the future of work”, di Indonesia.

Maspieto CTP
Tulisan ini terinspirasi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan  Iboy. Thx bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s