#9 Mengapa 90% Startups Gagal di Tengah Jalan?

Di bulan Januari 2013, komunitas startups di Amerika Serikat menerima berita suram. Polisi mendapati Jody Sherman  meninggal bunuh diri di dalam mobilnya, sekitar 35 km di luar kota Las Vegas tempat ia dan Kerry istrinya tinggal. Jody Sherman adalah pendiri sekaligus CEO dari Ecomom, sebuah startups yang bergerak di bidang makanan sehat untuk bayi. Jody yang mempunyai keahlian dalam bidang IT adalah pribadi yang menarik, menyenangkan, murah hati dan mempunyai passion yang kuat dengan dunianya.

Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian.  Credit foto.
Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian. Credit foto.

Di awal pertumbuhannya Ecomom mampu mengumpulkan US$ 2 juta dari para investor di California dan  US $4 Juta dari investor dan VegasTechFund di Las Vegas  sebagai modal untuk memulai usahanya. Jumlah itu setara dengan Rp 78 milyar  cukup untuk mengawali usahanya.

Kelemahan Jody adalah ketidak mampuannya dalam membuat keputusan di bidang keuangan baik dalam kehidupan pribadi maupun usaha. Jody sangat royal pada dirinya, istrinya dan karyawan-karyawannya. Para karyawan mendapatkan gaji yang sangat tinggi. Ia membelanjakan US $75.000 untuk membeli Airstream Trailer yang dipakainya keliling negara bagian untuk membagikan makanan bagi anak-anak yang kelaparan.

Puncak kegagalannya terjadi ketika ia menjual barang di Ecomom dengan harga discount. Jody tidak mempunyai kemampuan membaca laporan keuangan dan tidak mengerti perbedaan margin dan keuntungan. Situasinya lebih dari buruk, karena semakin ia banyak menjual justru perusahaan akan semakin rugi. Laporan investigasi yang lengkap tentang kegagalan Jody Sherman dalam mengelola Ecomom dapat dibaca selengkapnya di sini.

Jody Sherman barangkali contoh yang ekstrem, terlalu ekstrem, tentang seorang founder startups. Dan semoga cukup satu contoh ini saja, ketika sebuah kegagalan diakhiri dengan bunuh diri.

Tetapi, berapa banyakkah sebenarnya startups yang mengalami kegagalan dan mati sebelum dia berkembang? Saya perlu mengatakan fakta keras ini: konon 9 dari 10 startups akan gagal. Startups yang sedang/akan kamu geluti sekarang mungkin akan gagal juga. Mungkin saja, startupmu belum gagal, tetapi belum berhasil. Atau diambang kegagalan? Sebuah dilema yang harus dihadapi  oleh setiap startups.

Dilema itu juga yang mungkin dihadapi oleh Damar Juniarto, pendiri AlineaTV, ketika pada 2 Agustus 2015  menulis artikel ini di blog pribadinya “2 Tahun AlineaTV: Terpaksa Mati atau Mempertahankan Mimpi?”

Dua puluh alasan utama
Saya tidak tahu persis, mengapa dilema seperti itu dihadapi AlineaTV. Tetapi saya yakin setiap situasi yang disharingkan selalu mengandung pelajaran berharga. Di tahun 2014, CB Insight merilis hasil penelitian post-mortem terhadap 101 startups yang gagal. Pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian itu adalah: apakah sebab utama yang membuat sebuah startups gagal. Penelitian postmortem adalah penelitian yang dilakukan terhadap startups yang telah mati.

Hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa ada 20 alasan utama yang menyebabkan sebuah startup gagal. Yang dihadapi oleh Ecomom, yakni besar pasak daripada tiang, menduduki alasan kedua saja dan dihadapi oleh 29% startups. Kelemahan dalam mengambil keputusan keuangan yang cerdas, pengeluaran yang bodoh adalah penyebab utamanya. Sedangkan ketidakmampuan dalam menyusun, atau setidaknya membaca laporan keuangan dapat di atasi sedari awal dengan melibatkan orang yang ahli dalam bidang keuangan.

why-startups-fail-top-reasons1 cbinsightsdotcom

Penyebab kegagalan yang paling banyak dihadapi oleh startup adalah masalah pasar. Kecilnya revenue menjadi indikasi kuat bahwa pasar tidak menerima produk atau jasa startups meskipun semua strategi marketing sudah dilakukan.

Tetang sebab pertama kegagalan ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi. Pertama, Pasar memang tidak membutuhkan produk atau layanan startups. Sehebat apapun misi yang diusung oleh sebuah startups jawaban pasar cukup jelas: pasar tidak butuh.

Kemungkinan kedua adalah: Startups menyasar pasar yang berbeda dari desain produk atau sebaliknya. Ini seperti sebuah perusahaan mobil yang mendesai mobil angkutan pedesaan dan menawarkannya ke masyarakat perkotaan. Siapa mau mbeli?

Atau mungkin seperti membuat majalah untuk remaja tetapi gaya bahasa dan isinya bak jurnal ilmiah. Siapa mau membaca?

Banyak startups menghadapi masalah kegagalan pasar, karena sedari awal mereka tidak fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Siapa pasar mereka? Dimana mereka berada? Dengan cara apa mereka mendapatkan produk yang mereka tawarkan (channel)? Apa preferensi mereka? Apakah mereka memerlukan produk Anda? Seberapa banyak? Fitur-fitur apa yang mereka inginkan?

Misi dan Uang, mana yang lebih penting?
Banyak orang mengira bahwa tujuan dari sebuah bisnis adalah mendapatkan untung. Prinsip itu mungkin tepat untuk seorang pedagang atau saudagar. Tetapi kalau kamu mau membangun sebuah usaha yang dapat bertahan lama, melewati usia yang panjang, usaha itu harus dapat menarik banyak orang untuk terlibat, rekan, investor, karyawan, kontributor, pelanggan. Dan untuk dapat mengikat sebanyak-banyaknya orang, usaha itu haruslah mempunyai misi dan bertujuan mulia, beyond profit,  untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Perhatikanlah ada begitu banyak founder, CEO yang berhasil tidak hanya dalam menjalankan usahanya, tetapi juga memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat dan dunia. Apakah uang tidak penting? Bagi sebuah perusahaan/startups bermisi mulia, uang sangat penting. Ia ibarat oksigen, O2, yang diperlukan agar perusahaan dapat hidup. Tanpa O2, manusia mati. Tanpa uang perusahaan bangkrut. Tetapi tujuan hidup manusia bukanlah mencari oksigen, bukan?

Begitulah sebuah startups dan perusahaan masa kini berada, ada tujuan ada misi yang hendak dicapai. Tetapi oksigen dan kebutuhan hidup lainnya harus dicukupi secara seimbang. Dengan kata lain selain sebuah misi yang luhur, founder atau CEO sebuah startups harus memikirkan bagaimana pasar dapat menerima produk/layanan dan memberi kontribusi finansial yang berguna bagi keberlanjutan usaha.

Selain misi yang mulia, startups yang akan sukses harus cukup rendah hati mempelajari pasar dan pelanggan mereka, menyesuaikan diri dan menjawab kebutuhan pelanggan. Pada gilirannya, pelanggan akan memberikan kontribusi finansial. Dan itu semua dilakukana tanpa harus mengorbankan misi luhurnya.

Kamu hanya perlu sedikit cerdas untuk menerjemahkan prinsip ini: “masuk lewat pintu mereka, dan keluar lewat pintu yang kamu kehendaki” agar kontribusi finansial dan misi mulia dapat berjalan seiring sejalan. “Masuk lewat pintu mereka” berarti, produk dan jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan.  “Keluar dari pintu kita” artinya misi dan tujuan mulia perusahaan, lewat jalan yang agak berliku dapat tercapai.  Ini adalah sebuah prinsip pedagogis yang  bermanfaat untuk bisnis.

Maspieto – CTP.

One thought on “#9 Mengapa 90% Startups Gagal di Tengah Jalan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s