#7. Risiko Usaha, Pelajari Ini Sebelum Melangkah

Kita semua sering mendengar ungkapan yang mirip seperti  ini, “wirausahawan  adalah orang yang suka mencari risiko. Mereka seperti pendaki yang ketagihan mencari puncak-puncak gunung untuk ditaklukan”. Beberapa buku motivasi bisnis menulis topik ini. Contoh konkret dibeberkan, wirausaha sukses kerap digambarkan bagai superman yang berani menerima risiko dan mampu menghadapi 1001 tantangan.

Semua pilihan ada risikonya. Karyawan, pengusaha, wirausaha. Sama saja. Credit foto: Courtesy of epsos.de

Banyak  seminar bisnis memperkuat kesan itu. Dengan nada yang sangat persuasif, motivator menghipnotis  para peserta, seolah-olah rumus bisnis yang ditunjukkan akan memudahkan usahanya. Bisnisku ini gampang. Trik dan teknik diajarkan.

Selesai membaca buku atau pulang dari seminar, peserta seminar semakin yakin bahwa ide bisnisnya akan terlaksana semudah ia membayangkannya. Dan uang masuk akan datang lebih banyak daripada pengeluarannya.

Saya tahu hal itu tidak benar. Sebelum atau setelah membaca buku dan ikut seminar motivasi, hidup yang kita jalani tetap sama. Kenyataan hidup tidak ada yang berubah. Risiko kehidupan selalu ada. Entah Anda memilih menjadi karyawan atau menjadi wirausaha, risiko selalu mengintai. Kita sering mendengar hukum bisnis ini, “high gain, high risk”. Hasil yang besar selalu beriringan dengan risiko yang besar. Sebagian mungkin benar. Tapi banyak juga “low gain” berisiko besar.  Petugas pemadam kebakaran berisiko kehilangan nyawa lebih besar meski gajinya mungkin sama dengan pegawai negeri umumnya.

Risiko ada dimana mana. Juga kalau Anda sedang penuh semangat dan passions untuk menjadi entrepreneur membangun sebuah usaha atau startup, ingatlah risiko selalu ada. Tak peduli apakah Anda karyawan/profesional atau wiraswasta.

Bulan Juni 2014, Halle Institute for Economic Research  mempublikasikan penelitian dan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakter antara wirausahawan sukses, profesional dan karyawan biasa dalam hal sikap mereka terhadap risiko. Mereka pasti bukan orang yang menolak risiko. Karena kalau Anda menolak risiko, Anda pasti gagal. Mereka semua menerima risiko sebagai bagian hidup. Tinggal bagaimana menjadi smart, cerdas mengolah risiko.

Ilmu management sudah lama memasukkan “risiko” sebagai cabang ilmu tersendiri, yaitu risk management, atau management risiko. Seperti halnya, uang (finance), manusia (human resource), pemasaran (marketing) ada ilmu dan teorinya, demikianlah resiko (risk) adalah hal yang ada dan perlu dikelola/manage. Dalam istilah saya (yang mungkin berlebihan) risiko adalah hal yang harus dipeluk ketika Anda menjalankan bisnis. Risiko itu ibarat  “anak sendiri” yang perlu dijaga agar tidak tumbuh menjadi anak yang liar dan brutal. Artinya Anda perlu menyediakan sumber daya baik waktu maupun biaya untuk mengelola risiko.  Bagaimana caranya?

1. Sediakan Bab Khusus tentang Risiko dalam Rencana Usaha
Selain berbicara tentang produk, keuangan, marketing, organisasi, Anda perlu membuat daftar resiko yang mungkin muncul.  Risiko bisa datang dari diri Anda, partner, karyawan, pasar. Pendek kata kita perlu cermati risiko dari semua aspek, baik eksternal maupun internal. Tidak semua risiko mempunyai bobot yang sama. Anda perlu mempelajari dan memperhitungkan bobot tiap risiko itu dan belajar bagaimana mensiasati, mencegah dan menanggulangi risiko.

Ketika asset Anda adalah rumah atau toko, risiko yang mungkin muncul adalah kebakaran atau pencurian. Kalau Anda sudah memperhitungkan risiko itu, Anda perlu memikirkan memanfaatkan asuransi kebakaran dan investasi pada sistem pengamanan rumah.  Kalau Anda menjual makanan, mungkin Anda menghadapi risiko bahan makanan yang cepat busuk atau kadang langka di pasaran. Sebuah mesin pendingan berkualitas serta jaringan supplier mungkin bisa menjadi salah satu cara mengurangi risiko. Dan sebagainya.

2. Siapkan Plan B, C, D E, dst
Anda mungkin pernah mendengar kata-kata bijak ini “Jangan berjanji saat hati senang, jangan membalas saat Anda marah”.  Kata-kata bijak itu mungkin cocok diterapkan dalam pengelolaan risiko. Saat suasana hati sedang penuh semangat, atau sedang kepepet, kita mungkin cenderung berlebihan dalam melihat peluang bisnis/usaha. Dan dalam suasana hati seperti itu, senang atau kepepet, mungkin Anda cenderung akan terburu-buru melakukan eksekusi.

Nasehat saya, ambillah waktu untuk menimbang dan menghitung dengan cermat prospek usaha Anda, langkah-langkah apa yang perlu dilakukan, berapa peluang keberhasilan dan kegagalan, berapa lama waktu dibutuhkan untuk mencapai hasil. Itulah beberapa list pertanyaan untuk sampai pada perhitungan yang objektif.

Selanjutnya siapkanlah rencana-rencana cadangan, Plan B, C, D, E dst bila sewaktu-waktu terjadi kegagalan dalam rencana-rencana Anda. Kalau semua itu sudah Anda lakukan sejak awal, Anda tak perlu lagi panik menghadapi situasi yang berubah, yang tidak sesuai dengan rencana Anda.

3. Fokus dan Kejar Peluang – Peluang dan Lampaui Keterbatasan Sumberdaya Anda
Risiko terbesar bisnis adalah kegagalan. Kalau Anda cermati lebih teliti, kisah para pengusaha sukses diliputi banyak kegagalan di samping keberhasilan yang mereka raih. Mereka sudah berkali-kali terantuk risiko bisnis terbesar, yakni gagal. Hukum perjuangan berlaku dalam hal ini. Yaitu, jumlah pemenang lebih sedikit daripada jumlah peserta pertandingan. Dari pengalaman saya, ada tiga ketrampilan positif yang harus dimiliki entrepreneur untuk memenangkan pertandingan dan mengatasi kegagalan.

Pertama fokus dan kejar. Wirausaha mungkin seorang yang berpandangan sempit. Dalam arti tentu benar adanya. Ia berfokus pada bidang yang telah dipilihnya dan tidak mudah menyerah pada situasi yang dihadapi. Dia sudah memperhitungkan semua risiko dan mengelolanya dengan baik.

Kedua, peluang/opportunities. Dalam menjalankan usahanya mungkin seorang entrepreneurs sejati melihat 4 peluang ini.  a) buat produk baru, b) buat bisnis model yang baru c) menciptakan produk murah d) menciptakan pasar yang baru.  Empat peluang ini bisa saja dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Anda juga perlu memperhatikan bahwa tidak semua peluang cocok untuk semua produk atau organisasi. Tidak  semua upaya peningkatan profit adalah hal baru, misalnya meningkatkan skala usaha dengan menambah representative, atau menaikkan harga. Hal itu bisa saja dilakukan, tetapi itu tidak termasuk kategori entrepreneural. Bahasa gaulnya: “nenek gue juga bisa”.

Beyond Resources Controlled, lampaui sumberdaya yang Anda punya. Wirausaha, startups selalu terkait dengan usaha/bisnis baru. Pada tahap awal pertumbuhan, mungkin seorang entrepreneur bisa menghidupi usahanya cukup dengan menginvestasikan waktunya, tenaganya dan modalnya sendiri. Tetapi sejalan perkembangan usaha, empat risiko ini akan muncul. Pertama, demand risk. Risiko permintaan yaitu resiko yang muncul karena tingkat permintaan customer yang tinggi terhadap produk/jasa Anda. Sementara skala usaha Anda tidak mampu menangani semua permintaan itu. Kedua, technology risk. Risiko teknologi, kebutuhan terobosan teknologi untuk menangani proses produksi atau pemasaran. Ketiga, execution risk. Risiko eksekusi yaitu kemampuan entrepreneur untuk merekrut karyawan dan partner agar rencana usaha dapat terlaksana. Keempat, Financing Risk. Risiko keuangan yaitu ketersediaan dana sesuai dengan jadwal dan rencana.

Semakin maju tahapan startups semakin banyak risiko dihadapi untuk menjaga keseimbangan usaha. Credit foto http://www.paxsonwoelber.com/

Banyak entrepreneur berhenti pada tahap awal usaha atau saat skala usaha masih dapat ditangani dengan mengandalkan waktu, tenaga dan keuangan internal (bootstrap). Untuk maju ke tahap berikutnya, wirausaha perlu piawai dalam menjaga keseimbangan menghadapi 4 resiko tadi.

Pelajaran tentang  cara mengatasi resiko-resiko itu sudah masuk dalam kurikulum wirausaha tingkat lanjut. Di kesempatan berikut saya akan mencoba menguraikan strategi dan taktik mengatasi ke-empat risiko tadi.

Maspieto CTP

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s