#4. Ide Bisnis untuk Startup: “Profit Seeking Entity atau Problem Solver”?

“Kami ingin membawa Suvarnabhumi Airport Bangkok ke dalam rumah-rumah kami”

Setengah hari tadi (20/07/2015) saya berdiskusi intensif dengan beberapa arsitek tentang startup mereka, di Citos, Cilandak. Tantangan yang mau dijawab dengan startup mereka patut mendapat acungan jempol.

Courtesy of buzzquotes.com
Bangkok Airport. Courtesy of buzzquotes.com

Saya ingin mensharekan diskusi ini karena dua alasan. Alasan pertama, meski masih sangat prematur gagasan awal mereka patut dibawa ke ruang publik untuk mendapatkan tambahan kritik/masukan, tambahan kawan, tambahan resource dan mungkin tambahan komunitas yang mempunyai minat yang sama.

Banyak orang takut menyebarkan ide businessnya ke ruang publik. Kekawatirannya adalah ini: apakah menyebarkan ide business tidak merugikan, karena bisa saja ide itu diambil oleh kompetitor? Dan sebelum kita sanggup memasuki pasar, bisa-bisa pesaing kita sudah melakukan penetrasi lebih dahulu.

Alasan kedua, topik diskusi kami hari ini cukup bernilai dalam membantu sesama startup yaitu tentang market/pasar, validasi customer dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari calon investor atau venture capitalist tentang pasar yang dimasuki startups adalah pertanyaan inti dan utama yang harus dijawab pemilik startups dalam proses pitching. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, berarti menutup kemungkinan mendapat sejumlah dana untuk melakukan ekspansi usaha.

Radiant Cooling
Sekarang saya mulai dengan alasan pertama: berbagi Ide bisnis. Anda yang pernah pergi ke Bangkok melalui Suvarnabhumi Airport mungkin tidak menyadari hal berikut. Terminal Airport seluas hampir 150.000m2 dengan ketinggian langit-langit mencapai 13,5 m, terasa sejuk walau tidak menggunakan AC. Suhu di dalam ruang terasa sejuk karena suhu udara dijaga berada di kisaran 22-24C, dengan kelembaban 44-55% RH (relative humidity).

Teknologi yang dipakai sebagai ganti AC konvensional disebut Radiant Cooling. Penjelasan detail dan teknis tentang bagaimana kerja teknologi ini tidak dapat saya berikan. Ada ahlinya yang dapat menjelaskannya leih detail. Anda juga dapat googling bila ingin tahu lebih banyak. Silakan para pembaca berbagi, kalau tahu tentang teknologi ini.

Hanya prinsip kerjanya saja mampu saya sharekan. Proses pendinginan di Airport ini dilakukan terhadap lantai terminal pada suhu 19C. Proses pendinginan di Airport dilakukan melalui pipa-pipa air yang ditanam di bawah lantai. Air didinginkan dengan beberapa chiller raksasa, yang kemudian dialirkan ke dalam pipa-pipa di bawah lantai. Itu sebabnya, kadang teknologi ini disebut sebagai radiant floor cooling. Sistem ini berbeda dengan AC konvensional yang melakukan pendinginan ruang dengan menghembuskan udara yang didinginkan ke dalam ruangan. Dengan teknologi ini, secara teoritis energi listrik dapat dihemat sampai 60%.

Sejauh ini gedung yang telah menerapkan teknologi ini di Indonesia hanya 2 yaitu Kedutaaan besar Austria di Jakarta dan ATMI di Cikarang Jawa Barat. Memang teknologi radiant cooling sejauh ini hanya diterapkan pada high risk building seperti mall, perkantoran, apartemen dan bandara. Belum pernah saya dapati penggunaan teknologi ini pada rumah-rumah tinggal. Mungkin karena kendala biaya yang tinggi.

Tantangan yang ada di hadapan kawan-kawan diskusi saya hari ini tentu sangat menarik. Apakah mungkin menggunakan teknologi radiant cooling (yang ramah lingkungan dan terbukti efisien dalam pemanfaat energy listrik) ke dalam rumah-rumah sederhana, dengan luas 36m2 atau 45m2? Para arsitek dan tim teknis ini cukup optimis bahwa tantangan ini dapat dijawab dan diselesaikan. Mereka sekarang akan memasuki tahap uji coba, untuk memastikan bahwa desain yang mereka buat dapat bekerja.

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli
Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Beyond Profit
Setelah sekilas tentang teknologi radiant cooling, sekarang, saya ajak pembaca kembali mendiskusikan alasan pertama yang saya sampaikan di atas. Apakah sharing ide bisnis yang saya lakukan tidak membahayakan prospek bisnis kawan-kawan Arsitek dan sponsor mereka? Tentu saya perlu lampu hijau dari mereka untuk sharing ini. Menurut saya, mensharingkan atau tidak mensharingkan ide bisnis itu perkara kepercayaan, perkara pilihan akan prinsip hidup/bisnis.

Saya percaya bisnis masa kini melangkah “beyond profit“. Bisnis visioner melampaui paradigma berpikir pedagang mobil bekas: mencari mobil bekas dengan harga serendah-rendahnya, memolesnya, dan kemudian menjualnya dengan harga setinggi-tingginya. Bisnis visioner, mencoba mencari solusi atas persoalan manusia, lingkungan dan keberlangsungan planet kita ini. Not (only) compete to be the best IN the world, but collaborate to be the best FOR the world.

Keberhasilan tidak lagi sekedar diukur dari revenue, profit dan ROI, namun dan terutama values, impact dan culture. Apple tidak punya CSR karena mereka percaya berbuat baik tidak harus menunggu profit, namun didasari oleh manifestasi nilai-nilai. Google dan Zappos mampu menghimpun talenta-talenta paling relevan bukan berdasarkan tawaran gaji tinggi, namun karena visi dan ajakan untuk turut mengubah dunia.

Dalam konteks beyond profit perusahaan menjelma dari profit seeker menjadi problem solving organization. Antar organisasi bukan lagi urusan kompetisi, namun kolaborasi dan kerjasama untuk misi bersama yang lebih universal. Perhatikan saja misalnya BCorporation yang berupaya menjadikan business sebagai solusi problem sosial.

Saya percaya, dengan mensharingkan ide besar yang sedang ditekuni oleh beberapa kawan arsitek, saya justru sedang membantu membukakan tangan untuk sebuah kolaborasi cerdas dan luas untuk membangun rumah kita yang peduli pada lingkungan hijau dan menjawab masalah pemanasan global. Ya, ini memang sebuah cita-cita besar yang perlu banyak oarng untuk terlibat. Siapa tahu tulisan saya ini menjadi pemacu lahirnya komunitas-komunitas lintas ilmu yang concern pada eco house design.

Lagi pula, masalah utama startups sesungguhnya bukan pada ada tidaknya ide. Ide-ide menarik dan gila bisa kita dapatkan di banyak ruang diskusi. Para komentator bisa punya lebih banyak ide daripada pelatih sepakbola. Apa istimewanya ide GoJek atau BerryKitchen? Banyak orang bisa membuat ide yang lebih gila dari itu. Persoalannya ada pada level eksekusi. Apakah startups mempunyai kompetensi inti (core competence) untuk melakukan eksekusi? Kawan-kawan saya dan sponsor mereka agaknya punya kapasitas memadai untuk mengolah gagasan mereka itu.

Bila demikian halnya, persoalan berlanjut ke alasan/pertanyaan ke-2? Bagaimana dengan pasar? Siapakah customernya? Apakah mereka pasti akan menerima produk baru ini? Bagaimana mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan?

Saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan berikutnya,

Maspieto CTP

One thought on “#4. Ide Bisnis untuk Startup: “Profit Seeking Entity atau Problem Solver”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s