#3. Ngobrol dengan Milenial saat Halal bi Halal

Kali ini saya menulis tentang milenial dan startups.

Salah satu hal yang menyenangkan saat silaturahmi, halal bi halal Idul Fitri adalah bertemu dengan para keponakan, generasi milenial.

Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial
Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial

Keponakan kebanyakan lahir antara tahun 1990 dan 2010. Menurut pembagian demografi sebagian keponakan masuk kategori generasi Y atau generasi milenial (lahir antara 1980-2000); dan sebagian keponakan masuk generasi Z (lahir setelah tahun 2000.

Kali ini saya akan fokuskan tulisan pada sebagian  mereka, yaitu  para milenials.

Di antara mereka, saya kemarin asyik ngobrol  lama dengan Desy dan Emir. Mereka ini dapat menjadi contoh relevan dari kaum milenial. Keduanya belum lama lulus dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dan begitu lulus mereka langsung bekerja di perusahaan multinasional. Lulus dan dapat pekerjaan adalah pencapaian yang dapat menenangkan hati orangtua mereka.

Apakah pencapaian sementara ini memuaskan hati Desy dan Emir? Tidak atau belum. Para milenial ini punya preferensi berbeda tentang pekerjaan dengan generasi sebelumnya yaitu generasi X. “Sukses” bagi generasi orangtua mereka belum tentu dianggap sebagai sukses bagi para milenial. Ada perbedaan cara pandang milenial dengan generasi X dalam banyak hal, gaya hidup, pekerjaan, pandangan akan teknologi, otoritas dan sebagainya.

Dalam hal pekerjaan misalnya, para milenial ini tumbuh melihat orang tua mereka bekerja siang dan malam melakukan pekerjaan korporasi yang sangat menekan. Hal ini menimbulkan pandangan tersendiri tentang pekerjaan dan perlunya keseimbangan antara kerja dan kehidupan.

Generasi X menganggap apa yang mereka kerjakan berkaitan dengan hidup. Sementara milenial melihat hidup laksana cafetaria. Mereka melihat generasi sebelumnya hidup untuk

Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com
Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com

bekerja, sedangkan milenial mau bekerja untuk hidup. Mereka tak suka kerja keras yang menghilangkan kesempatan untuk menikmati hidup.

Generasi X melihat perubahan teknologi sebagai sesuatu yang baru, yang mengubah kehidupan. Sementara Generasi Y tumbuh dengan teknologi. “Being connected” dan penguasaan teknologi adalah DNA mereka. Dilengkapi dengan teknologi terbaru dan gadget, seperti iPhone, laptop dan tablet akhir-akhir ini, Generasi Y online dan terhubung 24/7, 365 hari setahun. Terhadap teknologi sebagai barang baru, generasi X cenderung mencoba menikmatinya (enjoy IT), sebaliknya para milenial memanfaatkan teknologi sebagai sumber (utama) kehidupan (employ IT).

Generasi X punya DNA pemberontak terhadap otoritas yang mereka anggap mengukung kebebasan mereka. Sementara milenial menganggap otoritas itu soal pilihan. Artinya mereka akan cenderung meninggalkan otoritas yang tidak mereka sukai dan mengakui otoritas bila sesuai dengan visi mereka. Otoritas itu ibarat applikasi dalam smartphone mereka. Milenial dapat menginstall atau uninstall  “otoritas” pilihan mereka sesuai dengan preferensi.

Milenial ini dapat digambarkan sebagai orang yang ambisius dan sangat percaya diri. Generasi sebelumnya mungkin menganggap mereka arogan. Milenial punya ekspetasi yang tinggi dan cenderung mencari tantangan. Bertanya untuk sesuatu yang mereka anggap tak jelas adalah hal yang biasa untuk milenial.

Begitulah stereotype para milenial. Jejak-jejak stereotype  itu saya temukan lagi ketika ngobrol santai dengan Desy dan Emir. Kendati mereka sudah bekerja di perusahaan multinasional, masih ada ambisi dan ekspetasi besar yang rasanya belum tertampung dalam situasi sekarang. Desy masih berharap bekerja di sebuah perusahaan yang memberi peluang untuk berkreasi, tidak terkukung pada job description yang terinci tapi membelenggu. Emir masih menekuni desain startup selepas pekerjaan kantornya. Dia masih mengimpikan mempunyai usaha sendiri dengan startups yang didesain bersama beberapa temannya.

Nah, untuk Anda yang juga sedang menekuni startups, perhatian pada milenial sebagai  tenaga kerja dan pasar potensial perlu diberikan lebih. Mereka bisa menjadi bagian tim kerja sehingga suasana kerja, desain ruang kerja, hubungan antara atasan dan bawahan, budaya perusahaan, mau tak mau harus menyesuaikan dengan karakteristik milenial. Dalam beberapa tahun ke depan milenial akan menjadi kekuatan utama semua organisasi.

Milenial juga menjadi pasar potensial. Dalam lima tahun mendatang, para milenial adalah angkatan kerja produktif, mempunyai penghasilan yang cukup dan shopping menjadi gaya hidup mereka. Dalam dekade itu (2020-2030) jumlah milenial produktif lebih banyak dari pada angkatan non produktif, manula dan anak-anak. Perbandingannya 56:44. Ahli demografi menyebut situasi ini sebagai bonus demografi, atau deviden demografis.

Dalam artikel ke-2 kemarin saya menulis tentang masalah utama dari startups yaitu customer development. Dalam artikel ke tiga ini, saya  menggaris bawahi hal berikut. Saat Anda berpikir tentang customer/pelanggan/pasar jadikanlah para milenials dan bonus demografi sebagai salah satu pertimbangan penting. Mereka dan situasi demografis yang sebentar lagi terjadi, akan sangat menentukan situasi ekonomi. Dan karenanya berkaitan dengan customer, pelanggan dan pasar Anda.

Ada baiknya Anda pelajari lebih lanjut ciri-ciri milenials serta  bonus demografi  dan IMPLIKASInya dengan industri, produk dan jasa yang Anda tekuni.

Maspieto CTP

One thought on “#3. Ngobrol dengan Milenial saat Halal bi Halal

  1. pembuktian-nya kurang, langsung pada sintesis dari hasil observasi. Triangulasi kesahihan data hasil observasi tak tampak, mas bro…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s